Museum Batik Nasional sepertinya tak pernah berhenti untuk berbenah. Setelah mengalami masa renovasi beberapa bulan lalu, kondisinya kini semakin rapid an menarik. Terlebih adanya berbagai inovasi. Diantaranya masuk museum pengunjung disambut sebuah bejana besar yang terbuat dari tembaga atau yang dikenal sebagai Jedi yang dipajang di ruang lobi museum, tepat ditengah pintu masuk museum.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Batik Nasional, Dinas Perhubungan, Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pekalongan, Tanti Lusiani, membenarkan jika renovasi yang dilakukan cukup signifikan. Karena tidak hanya pemasangan Jedi yang dikenal berfungsi sebagai tempat nglorot atau proses pelepasan dan penghilangan malam pada kain yang dibatik, namun pengunjung juga bisa melihat sejarah batik dan gedung melalui tayangan audio visual berkapasitas sekitar 30 orang.
“Sekitar 10 hingga 15 menit diputar, berisi pembekalan bagi pengunjung mengenai pengetahuan tentang sejarah batik dan museum”, katanya.
Biaya masuk ke museum sangat murah, hanya dengan merogoh kocek Rp. 1.000 untuk pelajar dan Rp.5000 untuk umum. Pengunjung tidak perlu membayar ulang karena sudah termasuk tiket. Film documenter sepanjang 15 menit. Puas menikmati tayangan film pengunjung bisa langsung melihat koleksi yang mencapai 1.176 kain. Terdiri dari batik kontemporer 110 kain, batik mancanegara 12 kain, batik nusantara 199 kain, batik pedalaman 299 kain, batik pesisiran 489 kain serta koleksi non batik 67. Koleksi kain tertua berumur 1.900 tahun hibah dari kolektor batik berupa model kemben.
Usai berkeliling pengunjung bisa langsung membeli batik. Di museum disediakan galeri agar pengunjung bisa langsung membeli,” ujar Staf Museum Batik Pekalongan, Eka. Jika masih belum puas, wisatawan bisa mengunjungi kampung batik, seperti Pesidon, Kauman, Binagriya, Buaran dan Degayu. Alternatif lain bisa mengunjungi Pasar Grosir Setono.





